Satua Bagus Dyarsa
Nama Pemilik: Ida Idewa Gde Catra Katagori: Tutur/Babad/Satua/Purana Jumlah Halaman: 16 Kode Registrasi: - Bahasa: Bahasa Bali Ukuran: 35 Cm X 3,5 Cm More Details| Dalam lontar ini, diceritakan mengenai sosok Bagus Dyarsa, yang merupakan seorang penjudi sabung ayam. Suatu hari, Bagus Dyarsa pergi untuk berjudi sabung ayam ke bencingah dengan membawa sejumlah uang sebesar seratus rupiah. Setelah mengikuti pertandingan sabung ayam, sisa uangnya masih tersisa seratus rupiah, yang selanjutnya ia gunakan untuk membeli nasi.Saat tengah menikmati santapannya, muncul seorang lelaki tua yang penuh dengan luka. Melihat keadaan tersebut, Bagus Dyarsa dengan penuh empati membelikan lelaki tua itu makanan dan memberikan tempat tinggal. Sebagai bentuk balas budi atas kebaikan Bagus Dyarsa, lelaki tua tersebut meminta untuk dicari bulu ayam dan menyuruhnya meletakkannya di penunggun karang. Ia menyampaikan bahwa kapan pun Bagus Dyarsa ingin menengok anaknya atau pergi ke mana pun, ia hanya perlu membayangkan tempat tersebut maka ia akan sampai ke tempat yang diinginkannya.Lelaki tua tersebut sebenarnya adalah penjelmaan Batara Siwa, yang kemudian memberikan satu ekor ayam sebagai hadiah kepada Bagus Dyarsa. Ayam tersebut akan digunakan dalam sabung ayam dan dipastikan selalu menang. Singkat cerita, ayam tersebut berhasil mengalahkan ayam milik raja, sehingga Bagus Dyarsa pun diangkat menjadi raja.
BAHASA INGGRIS : In this lontar, it is told about the figure of Bagus Dyarsa, who was a cockfighting gambler. One day, Bagus Dyarsa went to gamble on cockfighting to the middle of nowhere with a sum of one hundred rupiah. After participating in the cockfighting match, he still had one hundred rupiah left, which he then used to buy rice. While enjoying his meal, an old man appeared who was covered in wounds. Seeing this situation, Bagus Dyarsa empathetically bought the old man food and gave him a place to stay. As a form of gratitude for Bagus Dyarsa’s kindness, the old man asked for a chicken feather and told him to put it on the penunggun karang. He said that whenever Bagus Dyarsa wanted to visit his son or go anywhere, he only needed to imagine the place and he would arrive at the place he wanted. The old man was actually the incarnation of Batara Siwa, who then gave a chicken as a gift to Bagus Dyarsa. The chicken would be used in cockfighting and was guaranteed to always win. Long story short, the chicken managed to beat the king’s chicken, so Bagus Dyarsa was appointed king.
|
