No Image Available

Satua Watu Gunung

 Nama Pemilik: Mangku Oka Salahin  Katagori: Susastra  Jumlah Halaman: 11  Kode Registrasi: 81  Bahasa: Bahasa Bali  Ukuran: 35 Cm X 3,5 Cm More Details
 Ringkasan Isi:
Lontar ini menceritakan kisah rakyat mengenai Watu Gunung, di mana Prabhu Kulagiri memiliki dua istri, yaitu Dewi Sinta Kasih dan Dewi Langa Wartya, yang merupakan putri Hyang Pasupati dan berstana di negara Kunda Dwipa. Prabhu Kulagiri melakukan tapa brata di Gunung Sumeru. Sementara itu, Dewi Sinta Kasih yang sedang hamil tua, bersama dengan Dewi Landep, mencari keberadaan suaminya. Dalam perjalanan tersebut, Dewi Sinta Kasih melahirkan seorang putra yang kemudian bertapa di Gunung Himalaya untuk memohon kesaktian, setelah mengalami luka di kepala akibat peristiwa yang menimpa ibunya. Putra tersebut kemudian dianugerahi nama I Watu Gunung.Di Himalaya, Watu Gunung mengganggu penduduk, sehingga mereka bersatu untuk menghadapi kerasnya Watu Gunung. Namun, I Watu Gunung tidak dapat dikalahkan. Raja Kawiswara merasa marah menerima laporan tersebut dan kemudian menyerang Watu Gunung, tetapi Watu Gunung berhasil meraih kemenangan, bahkan mengalahkan 27 raja.Suatu ketika, Watu Gunung meminta istrinya, Dewi Sinta Kasih dan Dewi Landep, untuk mencari kutu. Ketika itu, para istri melihat bekas luka di kepala Watu Gunung. Selanjutnya, terjadi pertempuran antara Watu Gunung dan beberapa raja, di mana Watu Gunung kembali keluar sebagai pemenang. Namun, setelah itu, Watu Gunung mengalami derita akibat larangan untuk berhubungan dengan ibunya dan ibu tiri sampai saat ini.

BAHASA BALI :

This lontar tells a folk tale about Watu Gunung, where Prabhu Kulagiri had two wives, namely Dewi Sinta Kasih and Dewi Langa Wartya, who were the daughters of Hyang Pasupati and lived in the country of Kunda Dwipa. Prabhu Kulagiri performed penance on Mount Sumeru. Meanwhile, Dewi Sinta Kasih who was heavily pregnant, together with Dewi Landep, searched for her husband. During the journey, Dewi Sinta Kasih gave birth to a son who then meditated on Mount Himalaya to ask for supernatural powers, after suffering a head wound due to an incident that befell his mother. The son was then given the name I Watu Gunung. In the Himalayas, Watu Gunung disturbed the residents, so they united to face the harshness of Watu Gunung. However, I Watu Gunung could not be defeated. King Kawiswara was angry to receive the report and then attacked Watu Gunung, but Watu Gunung managed to win, even defeating 27 kings. One time, Watu Gunung asked his wives, Dewi Sinta Kasih and Dewi Landep, to look for lice. At that time, the wives saw a scar on Watu Gunung’s head. Next, there was a battle between Watu Gunung and several kings, where Watu Gunung again emerged victorious. However, after that, Watu Gunung suffered from the prohibition to have relations with his mother and stepmother until now.