
Rabu, 5 Maret 2025, bertempat di Museum Pustaka Lontar, Desa Budaya Dukuh Penaban, Kabupaten Karangasem, menjadi saksi terlaksananya kegiatan konservasi, digitalisasi dan penarasian lontar yang diinisiasi oleh Yayasan Karya Buana Lestari dan diperoleh 2 lontar berhasil dilakukan konservasi, digitalisasi, dan penarasian. Bersama 2 orang penyuluh bahasa Bali yaitu ibu Ni Luh Widiastiti, dan ibu Ni Luh Putu Rika Darmayanti, serta tim dokumentasi Yayasan Karya Buana Lestari, kegiatan ini bertujuan untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Bali agar tetap lestari serta dapat diakses oleh generasi mendatang.
Dalam kegiatan ini, beberapa lontar penting telah berhasil didigitalisasi dan dikonservasi, di antaranya :
- Usana Bali : memuat penciptaan bumi dan laranmgan-larangan, pelanggaran etika, ada yang disebut patita walaka, seorang wiku melanggar etika disebut paten berisi tutur bhagawan indraloka, etika tentang asisyansisya, tingkah awangun kahyangan, riwayat sri dalem wira kesari, ngawangun sad kahyangan ring besakih, disambung ceritannya dengan maya denawa, disambung dengan riwayat bhagawan indra cakra bedahulu ditaklukkan oleh majapahit dan tenung rsigana.
- Kalimosadi Paribasa : dalam lontar ini disebutkan suatu penyakit gring kna menjuh parita, merah matanya rambutnya hijau, dilambangkan dengan huruf (aksara) ah sumarjana, penangkalnya dengan kunir warangang dan gamongan. untuk selanjutnya dijelaskan adanya berbagai macam penyakit, dan cara pengobatannya serta bahan obatnya masing-masing.
Yayasan Karya Buana Lestari secara konsisten menggelar kegiatan digitalisasi lontar sebagai bagian dari upaya konservasi warisan budaya Bali. Melalui Klinik Lontar yang dikelola oleh yayasan, berbagai lontar yang mengalami kerusakan atau rentan terhadap usia tua diberikan perawatan khusus agar tidak semakin lapuk dan tetap dapat dibaca serta diteliti oleh para akademisi maupun masyarakat umum.
Proses digitalisasi lontar dilakukan dengan menggunakan teknologi pemindaian beresolusi tinggi, yang memungkinkan isi lontar terdokumentasi dalam format digital tanpa merusak lembaran aslinya. Dengan cara ini, lontar yang sebelumnya hanya bisa diakses secara fisik kini dapat dijangkau secara daring oleh lebih banyak orang, termasuk para peneliti dan pemerhati budaya dari berbagai belahan dunia.
Selain digitalisasi, proses konservasi juga menjadi bagian penting dalam pelestarian lontar. Tim ahli yang terdiri dari konservator berpengalaman melakukan perbaikan terhadap lontar yang mengalami kerusakan akibat usia atau faktor lingkungan. Teknik restorasi yang digunakan tetap mempertahankan keaslian bahan lontar dan metode tradisional agar tidak mengubah nilai historisnya.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah daerah, akademisi, serta komunitas pecinta budaya Bali. Pelestarian lontar melalui digitalisasi dan restorasi tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam menjaga identitas budaya Bali di era modern.
Dengan adanya digitalisasi, lontar-lontar yang selama ini tersimpan di museum atau koleksi pribadi kini dapat lebih mudah diakses oleh generasi muda. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang mengenal dan mempelajari isi lontar, sehingga kearifan lokal yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut, mengingat banyak lontar yang masih membutuhkan perhatian khusus untuk diselamatkan. Dengan sinergi antara lembaga pelestarian budaya, pemerintah, dan masyarakat, kelangsungan warisan intelektual Bali dapat terjaga, memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan yang akan datang.


